Asap Oh Asap

Posted in Uncategorized on November 5, 2015 by budaksabar

asapDisini, nampak raksasa pekat mengepung kebebasan

Gelap, sampai tak seorangpun mampu membedakan pagi ataupun malam.

Disini, ribuan jiwa menderita dalam gelap

Buta, dengan matanya yang tak lagi melihat keindahan.

Disini, jiwa-jiwa itu bak sudah setengah mayat

Terlupakan dalam pusaran asap yang menenggelamkan semua mimpi.

Disini, walau asap tengah menduniakan nama Negeriku

Namun PENGASUHKU bak tuli tak mengenali kabarku.

Asap Oh Asap

Tak pandaikah kau berbagi rasa?

Kembalikan mentariku yang tengah kau sembunyikan!

Asap Oh Asap

Dimana pagiku?

Dimana Malamku?

Dimana semua keindahan ini?

Asap Oh Asap

Kabarkan pada mereka akan hadirmu yang mencekik,

menghisap energiku…

Asap Oh Asap

Kabarkan pada mereka akan hadirmu yang menggurita,

bahkan mendunia…

Asap Oh Asap

Sudah lama kau mengepung Negeriku

Merampas pagiku…

Melenyapkan malam-malamku…

Asap Oh Asap

Biarkanlah Aku dan Mereka menyapa pagi

Menyapa kelembutan, sampai malam indahku kembali

Disini, Aku hanya ingin hidup

Menghirup Langit dengan KELEGAAN yang abadi.

@apip_ON

AKU MENUNGGU

Posted in Uncategorized on September 23, 2015 by budaksabar

IMG_7141Aku mencari jejak dari langkahku yang pernah mendunia

Aku mencari cahaya yang sinarnya pernah memelukku

LARI, aku dikejar jejak yang baru…

SEMBUNYI, aku membaur bersama temaramMU…

Huh, aku hilang bersama diriku

Tenggelam, mati dilumat zaman

Huh, aku hilang bersama jiwaku

Lenyap, sesenyap TakdirNYA

Kepada siapakah aku harus mengadu?

Kepada langit yang Tinggikah?…

Atau, Kepada Laut yang Dalam?…

TIDAK, aku masih setia pada DZAT-ku yang ESA

Sungguh, tak mudah meraih sayangNYA

Sungguh, tak mudah melihat setiap doaku menari

Terdiam…Hening…Aku menyepi bersama doa-doaku yang baru

Menghilang, menyembuhkan labilku

Sampai DIA benar-benar menghiburku…

Aku Menunggu…

@apip_ON

Ah…

Posted in Uncategorized on April 23, 2015 by budaksabar

79mahasiswa

Aku pernah benci pada cerita masa lalu

Aku pernah tersenyum pada mimpi sore itu

Aku pun pernah menangis pada waktu yang berlalu

Ah, aku bak debu yang terhempas angin jalanan

Cerianya diawal waktu

Hangat, tak nampak kepalsuan

Candanya yang saling bertalu

Lepas, mengempas kebencian

Mereka, siapa Mereka???

Semuanya palsu, sirna bersama waktu

Mereka, dimana Mereka???

Ah, aku ditinggal pergi tanpa pesan yang pasti

Bayangannya tak mengenali Mpuknya

Kebebasannya, tak mengenali buntunya

Bahkan, tawanya hanya terdengar dari bilik-bilik mimpi

Ah, mereka tak lagi sama

Aku memang tempat untuk setiap tangisnya

Aku memang tempat untuk setiap sepinya

Aku juga tempat untuk setiap karmanya

Ah, aku terjebak dengan ini semua

Mereka pernah berpesan dengan lidahnya

Mereka pernah berjanji dengan imannya

Mereka juga pernah mengikat cinta dengan sumpahnya

Ah, aku tertipu bertubi-tubi

Ah, aku berhenti dari sandiwara ini

Ah, aku tak mau lagi begini

Ah, aku terbelenggu oleh setiap janji

Aaaaahhhhh….

@apip_ON

KEDIRI

Posted in Uncategorized on February 9, 2015 by budaksabar

kediri

Aku melihat langit di bumi Kediri

Damai, meyakinkan tekadnya

Pesanku pada angin yang nakal

Sampai kedalam dadanya

Aku merasakan gersang disiangnya Kediri

Bermakna hebat dengan kesan yang agung dari leluhurnya

Hujan manja yang datang bergerombol

Tak bosan menyegarkan sang Mpu-nya ilmu

Mereka sempat berebut dengan kuatnya bara mentari kala itu

Yah, mereka berjaya sampai gelap benar-benar terlelap

Aku merasakan sejuknya pagi di bumi Kediri

Bersatu dengan semangatku mengurai tanya

Ah, apakah gerangan tempat ini???

Kedirinya aku berbagi KEDIRI

Semoga, cinta luhurnya mengalir ke hilir

Kediri, tempat teristimewa dari Pulauku yang paling Timur

@apip_ON

Dia Malaikat dari Tuhanku yang Satu

Posted in Uncategorized on December 16, 2014 by budaksabar

angel

Jejaknya masih bisa terlihat

Dalam sunyi ataupun terjaga

Dia malaikat dari Tuhanku yang satu

Selalu tersenyum dengan bibirnya yang merah

Suaranya masih mampir ke selaput gendangku

Indah, menyejukan dunia besarku

Dia malaikat, bahkan lebih dari itu

Ah, sayapnya tengah mendekap perasaanku yang bimbang

Di batas itu dia menangis dengan mutiara dipipinya

Entah perasaan apa yang dia tumpahkan disana

Sedihkah…bahagiakah?

Ah, malaikatku terdiam dalam prestasiku yang gemilang

Aku tak lagi menapaki bumi yang menjajahku

Panasnya langit membangunkan semangatku yang tengah tidur

Ah, malaikat itu kini singgah di nodus normalku

Aku menggeliat dengan tatapan yang tak bertepi

Senyum dari tempatnya yang tinggi

Bak cambuk yang mengajariku tentang hidup

Tentang mengejar mimpi yang tak pernah habis dengan satu kemuliaan

Ah, malaikatku mendekap dari tempatku yang dulu

By: @apip_ON

Ah, You’re Excellent, Pip!

Posted in Uncategorized on November 30, 2014 by budaksabar

pergiSeperti halnya langit yang tinggi, dia berputar dengan terpaan cuaca dingin dan panasnya suhu bumi yang tak terbantahkan. Begitupun perjalanan panjangku yang tak luput dengan ujian dan tekanan dari berbagai sisi dalam hidupku. Berawal dari peristiwa besar 11 Maret 2011 silam, aku pergi meninggalkan “Negeriku” dengan langkahku yang lebar. Aku tahu, mereka lagi berduka. Tapi, ini adalah cita-citaku yang harus aku perjuangkan. Isak tangis kedua orang tuaku tak mampu memberatkan langkah beraniku waktu itu, walau dalam nuraniku sedu sedan tengah mengguncang dan membabi buta perasaanku. Disini, tekadku semakin bulat untuk menghadiahkan mereka kabar terbaik yang akan menjadikan mereka bangga untuk selamanya. Yah, tepat di 13 Maret 2011 perjalanan beraniku dimulai. ladangLadang dan pesawahan hijau turut melambai untuk terakhir kalinya, bak menyemangati rasa sedih yang tengah melanda batinku waktu itu, aku berusaha tersenyum dengan sisa ”beraniku” yang tengah dititik -NOL-. Aku peluk ayah dan ibuku diringi suasana melankolis yang tak mampu terbantahkan lagi, serta kusalami adik dan saudara-saudaraku yang tak lain adalah akar dari semangat tinggiku selama ini. Bis Do’a Ibu yang membawaku ke sudut ibu kota yang kejam, melaju cepat diiringi linangan air mataku yang meluap sederas hujan. Mataku memandang menebus kaca jendela di Bis berwana biru itu, menghayati setiap jengkal episode dalam hidupku yang tengah dihadiahkan sang Maha Esa untukku. “Tuhan, aku titip mereka padaMU. Kuatkan hamba dalam peranku yang berani ini! KAU adalah satu-satunya DZAT yang Maha tahu. Hamba yakin, ini adalah yang terbaik…” do’a kudusku terucap memecahkan keheningan. unpam14 Maret 2011, tepatnya hari Senin di pukul 7.30 Waktu Indonesia Bagian Pamulang-Tangsel, Banten. Aku, dengan peranku sebagai Mahasiswa Baru kala itu, berbanjirkan keringat disaat Gedung Kampus Pencakar Langit itu tak mampu aku kendalikan “Huh, aku tersesat…”. Diluar lobi dekat ruangan yang menuju Lab. Bahasa (sekarang Lab.Komputer) berdiri seorang gadis berjilbab dengan gincu dibibirnya yang berwarna merah menyala. Mungkin, dialah orang pertama yang aku jumpai dari sekian ribu Mahasiswa baru yang berlalu lalang didepanku, “hmmm, maaf Mbak, bolehkah saya menanyakan sesuatu???…” tanyaku pada gadis itu. “Iya, ada apa ya???” begitulah jawabnya singkat dengan matanya terus -meraba- penampilanku dari atas sampai bawah. “hmmm, saya Mahasiswa baru, Mbak! Hmmm, tapi saya gak tahu kelas saya dimana. Mungkin Mbak bisa bantu???” tanyaku lagi. “Emang Lu anak Fakultas apa???” jawab dia sekenanya. “Sastra Inggris, Mbak! Tepatnya kemarin itu saya ikut Test di gelombang kedua” tempasku lagi. “Aduh gua gak tahu ya, mending Lu cari aja sendiri dah! Sebenarnya sih gua juga anak baru di Sastra Inggris kaya Lu. Tapi, ingat ya jadwal Test masuk Lu dan Gua sangat berbeda, karena Gua ikut test digelombang pertama, sorry ya!” jawab ketusnya berlalu melengkapi kekatroanku kala itu. “tapi, Mbak! Bisa bantu tunjukin lokasi fakultasnya dimana kaaaannnn???…..” teriakku pada gadis itu yang berlalu meninggalkanku sendiri. “Hmmm, jangan menyerah, Piiiippp…”. begitulah celotehku menguatkan diriku yang mulai labil. Mungkin, inilah wujud orang yang tinggal di kota besar. Tapi, aku juga paham mungkin itu adalah bentuk kehati-hatian dari seseorang yang sama sekali tak dikenalnya. “ok Fix! Go for it, Piiippp!!!”. Celotehku lagi. sedihEntah sudah berapa lorong kelas yang aku telusuri, dan entah berapa juta anak tangga yang aku tapaki kala itu. Yang jelas, aku sudah benar-benar ada dititik yang sangat menghawatirkan. Baju biru yang aku kenakan kala itu tak lagi kering dan wangi seperti biasanya, karena keringat yang tengah meluap-luap menjadikannya basah bercampur bau jejak kelelahan yang tak terbantahkan lagi “Owhh, My God!!!” teriaku disaat kucium baju andalanku itu berubah aroma seburuk Neraka eheheh. Dalam titik ini, aku yakin Tuhan telah menguji kesabaranku. Hingga akhirnya, ada Dosen mungil yang memanggilku dengan sebutan -Mas-. “heiii, Maaasss! Siniiii!!! Capek banget kelihatannya! Kenapa?” tegur sang Dosen padaku. Dari situ, aku bercerita panjang lebar seperti halnya teman karib bertemu dengan sohibnya yang enak diajak CURHAT, Dosen itu terkenal dengan sebutan Ibu Puji, yang waktu itu juga mengajar di kelasku di jam kedua. “Owh, begitu. Kasihan banget kamu. Yaudah, saya juga ngajar dikelasmu. Ini kasih ke dosenmu yang tengah mengajar di kelasmu dilantai 4 no R. 408 B. sudah sanaaaa!!!” jelasnya panjang lebar. “Hmmm, i..ii…iya…iya..Ibu te…rimaa…kasiiihhh” tempasku sedikit terbata-bata dan sedikit tak percaya dengan “Mukjizat” yang dihadiahkan Tuhan disaat aku ada dalam kondisi hampir -menyerah-. “Huh, ternyata ini kelasnya! Tuhan memang Luar Biasa!” rasa syukurku sambil membaca urutan nama-nama mahasiswa yang terpampang nyata di dinding kelas yang terasa -seABAD- untuk mencarinya. “Alhamdulillah, ini dia namaku, NYANYANG APIP, dengan NIM: 2011060100. Iyessss….”, responku dengan girangnya. P1120050“Tok…Tookk…Toookkk…” bunyi pintu setengah teransfaran yang aku ketuk kala itu membuyarkan keakraban yang mulai tercipta diantara dosen dan para mahasiswa barunya. “Come in, please! Who’s knocking the door???” suara seorang Dosen perempuan dengan bahasa Inggrisnya yang tersusun begitu apik. Huh, pantas saja dia adalah Dosen Grammar 1 yang mengajarku kala itu. Dia akrab dipanggil Mss. Nia. “Hmmm, Cuantikkk tenannn Mas Brooo!!!.” Gumamku sedikit menelan ludah. “well, how sorry I am for coming late, Mss! Really, it’s not my wish. Yeah, I got lost then! More, Sorry!” jawabku dengan bahasa Inggrisku yang masih belepotan tak karuan ahahaha. “never mind, hmmm, would you please introduce yourself for us!” perintah Dosen cantik itu tiba-tiba. “well, NOW???” responku kaget dengan penegasan di kata -NOW- yang khas dengan logat sundaku yang masih kental. “yes, please!!!” tegasnya lagi tanpa iba melihat kondisiku yang tengah terjajah oleh butanya informasi tentang Kampus Baruku yang megah itu, mungkin hal ini dia lakukan karena waktunya hampir selesai. “Hmmm, Ok, I’ll try to do it”. Jawabku dengan helaan nafas yang tak lagi stabil. Dalam keberanianku memperkenalkan diri. Di pojok paling belakang, aku dapati seorang gadis dengan warna gincu merah menyala yang masih sama seperti waktu pertama kalinya aku lihat dari gadis berjilbab di lobi dekat Lab Bahasa beberapa waktu sebelumnya, tentunya bagiku wajah juteknya tak asing lagi. Kala itu, dia tengah tersenyum geli melihat polahku dengan alasan yang masih teka-teki sampai saat ini. “Huh, sialan, ternyata dia benar-benar sekelas denganku! Tega banget dia menelantarkan pemuda tampan yang akrab dipanggil –Choky Sitohang- ini” naluri jahatku sempat mampir kala itu (Hmmm, LEBAY dah Pip eheheh…). setelah perkenalan itu, aku baru tahu nama gadis berjilbab itu, yang tak lain menjadi teman nongkrongku bersama yang lainnya di Kantin paling penomenal, yaitu kantin “Hanny”. Iya, dia bernama Irawati Fajeri alias Dore sang Orator ulung yang Nama besarnya tengah diabadikan di seantero kampus berlantai sembilan itu eheheh…mungkin, dengan alasan itu pulalah waktu kuliahnya selalu terbagi dengan aktifitasnya yang ketat seketat -SILET-, Loh, kok gak pas ya eheheh…(becanda). it's mine4Hari demi hari aku lalui bersama teman-teman baruku yang mulai akrab, tepatnya hampir 40 Mahasiswa yang berlomba menjadi Number One di kelasku saat itu. Namun, seiring seleksi alam, mereka satu per satu menyerah dan berhenti tanpa kabar yang jelas. Begitupun para Dosen yang sangat Luar Biasa dengan ilmu dan pengalamannya yang terus dibagi di setiap harinya untuk kami. Semester demi semesterpun kami lalui dengan penuh suka cita. Iya, bersama teman-temanku yang tersisa karena seleksi alam itu. Dari pengalaman ini, aku pribadi banyak belajar tentang MEREKA, orang-orang hebat it's mine11yang selalu tertawa memecahkan setiap keheningan disetiap kelas yang silih berganti kami jelajahi tahun ke tahunnya. Konflik, tentunya selalu menghiasi perjalanan kami. Dari konflik yang sepele sampai konflik pemukulan yang dilakukan “Orang Gila” pun pernah menghiasi hari-hariku bersama mereka. Sungguh, keluarga baru ini sangat sulit untuk dilupakan. Aku banyak mendapatkan ilmu dari mereka, banyak pengalaman yang indahnya mengalahkan kegelamoran seorang tokoh –SYAHRINI- dalam perannya di layar kaca yang selalu mahal tak ternilai dengan nominal uang manapun. “hmmm, kalian hebat, my Excellent classmates!”. P1120009Sampai pada akhirnya, di 27 November 2014, perjalanku bersama mereka harus berkahir dengan penuh haru. Aku yang dulu, mungkin, dipandang sebelah mata oleh mereka. Lahir dengan predikatku sebagai Mahasiswa Terbaik di WISUDA angkatan 16 di Universitas Pamulang dari Fakultas Sastra Inggris. Ucapan selamatpun tak henti-hentinya berdatangan dari mereka, bahkan kado teristimewapun mereka sisipkan di gemuruhnya lalu lalang jutaan orang yang berbahagia kala itu. Hingga akhirnya, aku titipakan satu pesan singkat via sms untuk mereka mengakhiri kehadiranku untuk terakhir kalinya: “Jika waktu sudah tak kuasa menyatukan kita, biarkanlah kenangan suka dan duka diantara kita yang menjaga dan menyampaikan rindunya. Sungguh, tidak mudah bagiku untuk membuat cerita baru tanpa kalian, kawan. Sudah begitu banyak episode suka dan duka yang kita lalui bersama. Hanya rasa syukur dan ucapan terima kasih yang bisa aku ucapkan saat ini. Pada kalian orang-orang hebat yang sangat menginspirasi:: -terima kasih untuk kebersamaan yang sangat indah ini, aku pamit ya kawan! Doakan aku semoga menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi setelah ini. Begitupun kalian, semoga senantiasa kompak dan sukses mewujudkan segala mimpi-mimpinya. Aku tunggu kabar kalian dihari kemenangan seperti WISUDA ku ini. I am so content with you, guys. Thanks for your trust, support, and beautiful experiences. I’ll miss all about you, guys. More, thanks!”. Ucapan terakhirku terkirim secepat kilat dari ponsel jadulku yang sudah tiga setengah tahun menemani adrenalinku menggapai gelar Strata Satu di fakultas Sastra Universitas Pamulang. DCIM100MEDIADalam pangkuan kedua orang tuaku yang hanyut dalam air mata kebahagiaan, pada akhirnya, aku berhasil mewujudkan mimpiku untuk menghadiahkan mereka kabar terbaik yang tak akan terlupakan sampai kapanpun. “Ma, Pak! Ini putramu yang dulu pergi, kini dia gagah dalam balutan kostum sarjananya yang membanggakan! Terima kasih untuk cinta dan do’a kalian selama ini! Aku dedikasikan gelar dan penghargaan ini untuk kalian, orang-orang hebat yang tak akan pernah berakhir kasih dan sayangnya. Sekali lagi terima kasih banyak. Tanpa kalian, apalah arti semua ini. Bersama do’a dan kepercayaan yang kalian berikanlah, aku mampu membantahkan mitos ketidak sanggupan itu. More, Thanks so much to my beloved family as well. With you, I can face every hard circumstance in my long journey. Here, God is the best that guides my paths. More, love you all!”. Lirihku diakhir pesta Wisudaku kala itu. P1120047“ahahahah, I’m so hapiiiiiiiiiiiii…………………………..Thanks so much to My Allooooooooooooooooohhhhhhhh……………………”. teriakku lagi menyambut kemenanganku yang sangat LUAR BIASA itu. “see you later, mates! You are EXCELLENT!.” NOTE: Photo berdua itu sebagai bukti Orang yang pertama kali aku jumpai yaitu Irawati Fajeri alias DORE.  By: @apip_ON alias Nyanyang Apip

N O T H I N G

Posted in Uncategorized on October 29, 2014 by budaksabar

aloneJauh dari keramaian, aku meninggalkan setiap tawa dan air mata. Pelukan sayang dari sang bunda tak lagi hangat menemaniku disetiap rindu. Peran-peran kecil dari bocah ceria penguat tekadku, kini melebur dan lekas sirna dalam dekapan jarak. Aku terkunci, hilang di Negeri yang tak bertuan. Bertahun-tahun aku menimbun rindu pada sosok syurga yang kabarnya tak lagi aku dengar, sosok arjuna yang juga samar dalam ingatan. Aku hilang, bersama jiwaku.

Langit menertawakanku sepanjang rotasi, angin pagi dan sore yang selalu berganti peran, turut menyoraki setiap denyut resahku. Tanah-tanah kering yang dahaga, menyerap energiku, terus dan terus. Gelombang riak yang pernah membumi hanguskan Negeriku, turut lahap mengunyah setiap peranku yang pincang. Ah, aku hilang, bersama jiwaku.

Kamu, dia, dan mereka tak lagi sejalan dalam peranan ini. Aku yang menjadi budak, terbelenggu dalam asuhan kerasnya Ibu kota. Aku sendiri, benar-benar sendiri. Langkahku sudah terlanjur jauh meninggalkan asalku, menghianati mereka yang pernah terikat rasa. Aku pergi mendekati cahaya yang terang, cahaya kehidupan yang sinarnya mampu berpijar pada setiap relung yang sepi. Aku tahu, mereka juga hendak berburu sinar itu. Huh, aku hilang, bersama jiwaku.alone2

Keriput yang aku tengok dari gambar mereka, menunjukan bahwa waktu benar-benar bekerja. Wajah-wajah rupawan Ayah dan Ibuku, nampak masih enak dipandang di gambar itu. Namun, sebaris keriputnya pudar karena tangisku sampai dipermukaan wajah mereka yang sendu. Aku terjebak dalam perasaanku yang “Melankolis”. Namun, disana aku masih melihat wujud lain dari jiwaku. Wujud baru dengan metamorfosisku yang sempurna. Yah, aku datang dengan jiwaku yang baru.

alone3Tiga setengah tahun tepatnya, aku mengadu kepintaran di satu Negeri yang tak jauh beda dengan asalku. Namun, Negeri ini jauh lebih berwarna dengan warna yang terbentang dari Barat ke Timur, Utara ke Selatan. Aku ada diantaranya, diantara mereka, jiwa-jiwa yang haus keilmuan. Disini, aku mengukir sejarah baru, membuktikan janjiku pada mereka, pada semangat syurgaku yang selalu hadir disetiap sujud kudusku. Air mataku bukti kemenangan, senyum dari orang-orang yang merdeka bersatu menyambutku dibatas yang paling indah, yaitu batas kebebasan yang mengukuhkan gelarku dari sekarang dan untuk selamanya.